PONOROGO, 30 Mei 2026 — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa MAN 2 Ponorogo. Annisa Tri Yulianti dari kelas XI-12 dan Hasna Fadhila Ramadhani dari kelas XI-8 berhasil meraih Juara 1 tingkat nasional dalam Lomba Artikel Opini pada Event “Kembara” yang diselenggarakan oleh Radio Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Keduanya mengangkat isu perundungan (bullying) terhadap anak berkebutuhan khusus, khususnya penyandang tunarungu, sebagai bentuk kepedulian terhadap terwujudnya pendidikan inklusif di Indonesia.

Melalui artikel opini tersebut, Annisa dan Hasna menyoroti persoalan perundungan yang masih menjadi tantangan di ruang publik, terutama di lingkungan sekolah. Mereka tidak hanya mengemukakan permasalahan, tetapi juga menawarkan solusi berupa aplikasi pembelajaran antiperundungan interaktif yang telah dilengkapi dengan bahasa isyarat agar lebih mudah diakses oleh penyandang tunarungu.

Gagasan tersebut berangkat dari keinginan keduanya untuk berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan inklusif bagi seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus.

“Yang mendorong kami mengikuti Lomba Artikel Opini dalam Event Kembara adalah keinginan untuk mengembangkan kemampuan menulis sekaligus menyampaikan gagasan dan pandangan kami terhadap isu-isu yang terjadi di masyarakat. Kami ingin tulisan yang kami hasilkan tidak hanya menjadi pendapat pribadi, tetapi juga dapat memberikan wawasan dan perspektif baru bagi pembaca,” ungkap Annisa Tri Yulianti.

Kompetisi tersebut berlangsung pada 26 Mei 2026 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNESA, Surabaya. Proses kompetisi diawali dengan pengumpulan karya secara daring. Selanjutnya, panitia menyeleksi karya peserta untuk menentukan tim finalis yang berkesempatan mempresentasikan hasil tulisannya secara langsung di UNESA.

Dalam proses penyusunan artikel, Annisa dan Hasna bekerja secara kolaboratif sejak tahap penentuan isu hingga penyuntingan akhir. Keduanya juga mendapatkan pendampingan dari guru pembimbing, Wiretno, S.Hum., yang turut mendukung proses pengembangan karya tersebut.

Penyusunan artikel dimulai dengan menentukan isu yang relevan dan memiliki urgensi untuk dibahas. Mereka kemudian melakukan riset melalui berbagai sumber tepercaya guna memperoleh data yang dapat memperkuat argumen. Setelah menyusun kerangka tulisan, keduanya mengembangkan gagasan secara sistematis dengan menghadirkan solusi yang dinilai relevan terhadap persoalan yang diangkat.

Artikel tersebut juga melalui beberapa tahap revisi untuk mempertajam argumen, memperjelas penyampaian gagasan, serta memastikan tulisan mudah dipahami oleh pembaca.

“Bagi kami, kunci keberhasilannya bukan sekadar menyampaikan pendapat, tetapi juga membangun argumen yang kuat dan menghadirkan sudut pandang yang bermakna,” jelas Annisa.

Keberhasilan meraih Juara 1 tingkat nasional ini menjadi pengalaman berharga bagi keduanya untuk terus mengembangkan kemampuan literasi dan keberanian menyampaikan gagasan melalui tulisan. Prestasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa karya tulis dapat menjadi sarana bagi pelajar untuk menyuarakan kepedulian terhadap persoalan sosial dan menawarkan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Melalui pencapaian ini, Annisa dan Hasna berharap semakin banyak pelajar yang berani mengikuti kompetisi, mengasah kemampuan berpikir kritis, serta berkontribusi dalam menghadirkan perubahan positif melalui ide dan karya. Bagi keduanya, menulis bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan juga salah satu cara untuk mengambil bagian dalam mewujudkan pendidikan yang lebih inklusif di Indonesia.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.